Melihat Penyu di Birah-Birahan

Pulau Birah-Birahan masuk dalam wilayah Kecamatan Sangkulirang Kabupaten Kutai Timur Provinsi Kalimantan Timur. Birah-Birahan menjadi salah satu pulau dari sekian banyak pulau yang berada di wilayah pesisir Kabupaten Kutai Timur.

Pulau Birah-Birahan berjarak 7 jam perjalanan menggunakan perahu bermesin dari Pelabuhan Kenyamukan di pinggiran Ibukota Kabupaten Kutai Timur, Sanggata.

Perjalanan panjang menuju Pulau Birah-Birahan memang membutuhkan energi dan kesiapan, baik air minum, makanan berat dan ringan, hingga kesiapan fisik dalam menghadapi ayunan gelombang yang kadang tidak bersahabat.

Di dalam perahu berukuran panjang 15 meter lebar 3 meter, kejenuhan dapat diobati dengan melihat pemandangan laut, gumpalan awan dan jika beruntung, kita dapat melihat kawanan lumba-lumba mengikuti kapal yang sedang melaju.

Tidak saja lumba-lumba, kawanan ikan terbang juga sering terlihat berkejaran mendahului kapal yang membelah ombak. Jika beruntung, penampakan penyu laut sering terlihat beberapa kali di sekitar laju kapal.

Setelah tujuh jam perjalanan, perahu akan merapat di dermaga yang panjangnya mencapai 100 meter. Pagar hidup berupa pohon Senggigi, salah satu spesies pohon bakau dengan batang tinggi akan siap menyambut kita.

Pengunjung Pulau Birah-Birahan dapat menginap di gazebo. Namun, gazebo yang ada hanya berjumlah satu unit saja. Jika datang dengan rombongan besar, dapat mendirikan tenda baik di sekitar bibir pantai berpasir ataupun di anjungan dermaga.

Pulau Birah-Birahan merupakan pulau tempat habitat penyu hijau dan penyu sisik kerap bertelur di pasir pantai. Dalam seminggu ada satu hingga tiga ekor penyu naik ke daratan untuk bertelur.

Selain ekosistem pantai, pulau ini juga memiliki ekosistem daratan dengan ribunan aneka pohon. Seperti pohon pandan laut, pohon kelapa, dan beberapa jenis pohon besar serta aneka jenis burung.

Pulau ini adalah pulau yang ‚Äúdimiliki” oleh seorang penduduk bernama Haji Dewer yang membeli lahan kebun kelapa sebanyak 4.000 pohon di atas lahan pulau dari Kesultanan Kutai di tahun 1962. Lahan seluas ini biasa disebut tanah adat.

Dengan demikian, pulau ini tidak memiliki penangkaran penyu. Penyu-penyu yang bertelur dibiarkan menetas dan berenang ke laut tanpa ada rekayasa dan bantuan dari manusia.

Padahal, tukik atau anak-anak penyu yang masih lemah ini sangat rentan terhadap musuh alami mereka yaitu ikan hiu, burung elang laut, biawak dan lain-lain.

Jika berenang ataupun snorkeling di malam hari, penyu-penyu kerap ikut bermain karena teertarik dengan cahaya lampu senter yang dibawa oleh penyelam.

Karena “milik pribadi” pulau ini tidak menyediakan konsumsi dan akomodasi khusus. Hanya ada satu buah gazebo seluas 10 meter persegi lengkap dengan sebuah toilet yang baru selesai dibangun pemiliknya.

Untuk mandi dan kebutuhan air bersih, ada sebuah sumur dengan air tawar di pulau ini. Selain cukup untuk kebutuhan di kamar mandi, air tawar ini juga dapat digunakan untuk membilas badan usai berenang di air laut.

Di pulau ini juga tidak ada aliran listrik, sinyal telepon ataupun fasilitas modern lainnya. Sehingga, jika berkunjung ke pulau ini harus siap meninggalkan peradaban selama beberapa hari.

Biaya yang harus dikeluarkan untuk mengunjungi Pulau Birah-Birahan selama 3 hari 2 malam dari Pelabuhan Kenyamukan Sangatta, diperlukan biaya sebesar Rp1.000.000 per orang (data tahun 2015) untuk membayar sewa kapal, biaya makan selama di pulau, perbekalan air minum dan makanan ringan, serta sekedar memberi sumbangan untuk penjaga pulau.(ya)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *