Menyambung Asa Dua Negara Dengan Penerbangan Langsung

“Mendengar kata Borneo, orang akan berpikir tentang pulau besar bernama Kalimantan. Namun, sepotong bagian dari pulau besar ini masih mempertahanan nama Borneo sebagai identitas warganya. Mereka adalah masyarakat pada negeri Sarawak dan Sabah, Malaysia. Sedangkan di Indonesia, nama Kalimantan lebih popular di telinga warga Indonesia”

Oleh : Yuliawan Andrianto

 

Poskaltim.com, Samarinda — Hingga saat ini, nama Borneo untuk negeri Sarawak dan Sabah, lebih terkenal dunia ketimbang nama Kalimantan. Melalui slogan “Truly Asia”, setidaknya itulah yang membuat turis mancanegara kerap datang berkunkung ke Malaysia jika ingin melihat hutan hujan tropis dan flora-fauna eksotiknya.

Padahal, luas Borneo di Malaysia hanya 34 persen dari luas daratan Kalimantan. Sisanya sebesar 65 persen dimiliki oleh Indonesia dan 1 persen lainnya dimiliki oleh Brunei Darusallam. Jelaslah bahwa keanekaragaman Kalimantan jauh lebih kaya daripada Malaysia. Kalimantan the Real Asia.

Menilik sektor pariwisata di Sabah, obyek wisata yang ditawarkan tidak jauh berbeda dengan obyek wisata yang ada di Kaltim maupun Kaltara. Semuanya umumnya menjual eko wisata, menjual hutan dan kebudayaan kampung bernuansa Dayak. Maklum antara Provinsi Kaltim, Kaltara dan Sabah, merupakan satu daratan yang tidak terpisahkan.

Untuk memperkuat branding pihak Malaysia menyematkan kata Borneo Malaysia pada setiap promosinya. Sementara Indonesia, belum secara khusus menggarap potensi Kalimantan dengan branding khusus pula.

Dalam perjalanan sejarahnya, Pulau Sabah, baru bergabung dengan Malaysia Semenanjung pada tanggal 16 September 1963, setelah sebelumnya melakukan referendum yang difasilitasi PBB untuk menentukan pilihan bergabung diantara negara Filipina, Indonesia dan Malaysia.

Jadi Sabah yang beribukota Kota Kinabalu, tidak mengikuti persekutuan sejak awal dengan Malaysia Semenanjung yang saat itu juga menguasai Singapura dan juga Brunai Darussalam.

“Jika Malaysia Semenanjung merdeka pada 31 Agustus 1957, maka Sabah baru bergabung pada tahun 1963. Sehingga pemerintah Malaysia memberikan status negeri bagian untuk dua wilayah mereka, yaitu Sarawak dan Sabah, yang terpisah dengan Malaysia Semenanjung yang berada di bagian pulau Sumatera,” jelas Konsulat Jenderal Republik Indonesia (KJRI) untuk Negeri Sabah, Krisna Jaelani.

Jika berkunjung ke Sabah, kita akan menemukan dua macam bendera yang dipasang secara resmi di kantor-kantor pemerintahan dan sejumlah pertokoan, satu bendera Malaysia dan satu lagi bendera Negeri Sabah dengan gambar Gunung Kinabalu sebagai ikonnya.

Yang mungkin membedakan antara obyek wisata di Sabah dan Kalimantan adalah, infrastruktur dan aksesbilitas menuju destinasi wisata yang sangat bertolak belakang dengan yang ada di Kalimantan.
Di Sabah, infrastrutur jalan, jembatan dan pelabuhan pendukung pariwisata sudah sangat baik. Jalan-jalan lebar tanpa lubang, setiap obyek wisata mempunyai fasilitas yang memadai. Tersedia toilet, tempat sampah hingga bilik sembahyang untuk pengunjung.

Undangan Fam Trip ke Sabah ini selain untuk menjalin kerjasama pariwisata berupa tukar menukar informasi, kegiatan ini juga merupakan upaya merintis jalur penerbangan dari Kota Kinabalu ke Kaltim, bisa ke Balikapapn ataupun Samarinda yang baru memiliki bandar udara baru, Aji Pangeran Tumenggung Pranoto ((APT Pranoto).

Betapa tidak, untuk memenuhi undangan ini saja, kami bertiga, dari Borneo Kersik Luway Samarinda dan Kania Tour and Travel serta Rimba Borneo dari Balikpapan, harus melakukan perjalanan panjang.

Betapa tidak, kami harus “terbang” ke Jakarta terlebih dahulu, kemudian berganti pesawat menuju Kuala Lumpur, Malaysia. Tiba di Kuala Lumpur Internasional Airport, harus menginap semalam karena tidak ada penerbangan langsung ke Kota Kinabalu pada hari itu juga. Keesokan paginya, baru tersedia penerbangan menuju Lapangan Udara Antar Bangsa Kota Kinabalu.

Untuk menempuh perjalanan dari Samarinda hingga Kota Kinabalu memerlukan waktu 18 jam! Padahal, jika ditarik garis dari bawah ke atas, maka akan didapat garis lurus karena posisi Kota Kinabalu di dalam peta sejajar dengan Kota Samarinda atau Balikpapan.

Jika ada penerbangan langsung dari Kaltim ke Kota Kinabalu, maka waktu tempuh diperkirakan hanya selama tiga jam saja! Sangat pendek dan efisien untuk sebuah perjalanan bisnis apalagi perjalanan wisata.

Terletak satu daratan yang sama, Negeri Sabah-Sarawak dan Provinsi Kaltim-Kaltara, harusnya dapat meningkatkan kerjasama di berbagai sektor, dengan membuka rute penerbangan langsung kedua pihak.

Jika ini terealisasi maka beberapa kota di Kaltim seperti Samarinda dan Balikpapan serta Tarakan di Provinsi Kaltara akan lebih mudah menjalin berbagai kerjasama antar negara.

Namun, inilah kenyatakan yang harus dijalani, melakukan perjalanan selama 18 jam karena tidak adanya kerjasama antara dua negara. Padahal selain kerjasama pariwisata, masih terbuka lebar peluang lainnya, sebut saja kerjasama perdagangan, pendidikan hingga kesehatan ataupun kerjasama kebudayaan.

Namun, apapun obyek wisata dan potensi yang dimiliki jika tidak adanya hubungan kedua negara, maka akan sulit mengembangkan potensi yang dimiliki. Padahal, Sabah sebagai suatu negeri yang berdiri sendiri, memiliki wewenang untuk bekerjasama dengan pihak manapun.

Menurut Konjen RI, Krisna Jaelani, Sabah hanya memiliki potensi minyak, gas dan sektor perkebunan kelapa sawit. Sementara sebagian besar barang “diimpor” dari Malaysia Semenanjung, bahkan beberapa komoditi diimpor dari Kalimantan Utara.

“Perikanan sabah impor dari Tarakan (Kaltara) Sedangkan sebagian besar barang diimpor dari Malaysia Semenanjung. Jadi mereka menyebutnya impor karena Sabah merupakan negara bagian tersendiri,” jelasnya.

Sehingga perlu tindaklanjut dari berbagai pihak di Kaltim dan Kaltara untuk lebih meningkatkan promosi dan kerjasama di berbagai bidang, terutama wisata halal, kesehatan, perdagangan dan penerbangan. YAN/https://poskaltim.com/menyambung-asa-dua-negara-dengan-penerbangan-langsung/

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *