Kedudukan Lembuswana bagi Masyarakat Kalimantan Timur

Oleh : Ramadhan S. Pernyata /// Berbicara Lembuswana maka kita harus kembali menilik dulu siapa Lembuswana sesungguhnya, Lembuswana sendiri sebenarnya adalah maskot  dari kerajaan Kutai Kartanegara yang sudah ada dari abad ke-4 masehi, yakni saat kerajaan Kutai Ing Martadipura berkuasa di Kalimantan Timur,.

Kerajaan Kutai saat itu dipimpin oleh Maharaja Mulawarman. Lembuswana adalah hewan mitologi kerajaan Kutai yang bentuk fisiknya berkepala gajah, bermahkota, bertanduk, bertaji, bersisik naga, bersayap dan berbadan singa.

Namun apabila kata Lembuswana dipecah dalam beberapa kata, menurut kamus sansekerta-Indonesia (Purwadi,2008), Lembu bermakna sapi, Wana bermakna hutan, Swarna bermakna emas, Sawana bermakna Suci atau mensucikan diri. Secara harafiah bisa dikatakan Lembuswana adalah lembu suci berwarna emas yang merupakan representasi penjaga raja dan tunggangan dewata.

Lembuswana dianggap sebagai pelindung bagi kerajaan Kutai karena dalam beberapa cerita rakyat mengisahkan tentang asal usul peradaban kerajaan Kutai tidak lepas dari bantuan Lembuswana. Lembuswana hadir sebagai penjaga dan pelindung yang dititiskan dewata kepada kerajaan Kutai agar kerajaan tersebut aman dan selalu sejahtera serta terhindar dari serangan kerajaan musuh yang hendak menguasai kerajaan Kutai.

Filosofi Lembuswana sangat menarik karena menurut beberapa pakar budaya Kalimantan Timur, karakter Lembuswana mencerminkan kekuasaan besar dari seorang raja harus diiringi dengan kebijaksanaan dan tanggung jawab yang tinggi, sebagai pelindung sudah seharusnya menjadi contoh untuk masyarakat dan siap berkorban untuk melindungi rakyatnya.

Namun bila kita kembali melihat kebelakang maka semua cerita mitologi Lembuswana tidak bisa lepas dari pengaruh mitologi Hindu yang sudah eksis jauh ribuan tahun sebelum adanya Lembuswana, Tidak dapat dipungkiri mitologi dan ajaran Hindu menjadi dasar bagi kerajaan Kutai untuk berkembang pada masanya. Tentunya dengan beberapa serapan dan distorsi budaya yang disesuaikan dengan adat setempat ajaran Hindu di Kutai mulai lebih bersifat holistik. Segala bentuk kehidupan dan kepemerintahan di Kutai mengikuti pedoman ajaran agama Hindu.

Mitologi Hindu  adalah suatu istilah yang digunakan oleh para sarjana masa kini kepada kesusastraan Hindu yang luas, yang menjabarkan dan menceritakan tentang kehidupan tokoh-tokoh legendaris, Dewa-Dewi, makhluk supernatural, dan inkarnasi Tuhan yang dijelaskan dengan panjang lebar dalam aliran filsafat dan ilmu akhlak.

Mitologi Hindu juga menjabarkan kisah-kisah kepahlawanan yang diklaim sebagai sejarah India masa lampau, seperti Ramayana dan Mahabharata. Salah satu mitologi Hindu yang memberi pengaruh kepada Lembuswana adalah mitologi tentang Makara. Makara adalah makhluk dalam mitologi Hindu yang umumnya digambarkan dengan dua hewan gabungan (di bagian depan berwujud binatang seperti gajah atau buaya atau rusa, atau rusa) dan di bagian belakang digambarkan sebagai hewan air di bagian ekor seperti ikan atau naga.

Makara sendiri sebenarnya adalah tunggangan / wahana (kendaraan) dari Dewi Gangga dan dewa Baruna. Itu juga merupakan lambang dari Dewa Kamadeva. Kamadeva juga dikenal sebagai Makaradhvaja (satu bendera yang makara digambarkan). Makara sering dilukiskan dan dipahatkan dalam candi-candi di Indonesia, khususnya di Bali dan Jawa.

Orang Bali menyebutnya gajahmina, yang secara harfiah berarti “ikan gajah”. Kadangkala Makara dilukiskan sebagai makhluk berwujud separuh  kambing  dan separuh ikan seperti simbol Capricorn dalam zodiak. Dalam kitab-kitab suci umat Hindu, Makara adalah makhluk yang menjadi kendaraan Dewa Baruna dan Dewi Gangga.

Berdasarkan hasil studi dari berbagai pustaka, karakter Lembuswana selalu diasosiasikan dengan kekuatan, kesaktian dan loyalitas. Lembuswana adalah hewan mitologi kerajaan Kutai yang bentuk fisiknya berkepala gajah, bermahkota, bertanduk, bertaji, bersisik naga, bersayap dan berbadan singa. Namun apabila kata lembuswana dipecah dalam beberapa kata, menurut kamus Sansekerta-Indonesia (Purwadi, 2008), lembu bermakna sapi, Wana bermakna hutan,

Swarna bermakna emas, Sawana bermakna Suci atau mensucikan diri. Secara harafiah bisa dikatakan Lembuswana adalah lembu suci berwarna emas yang merupakan representasi penjaga raja dan tunggangan dewata.

Karakter ini sangat kental akan unsur agama Hindu dalam kreasinya, karena dalam perkembangan kerajaan Kutai, agama Hindu adalah agama yang dianut secara resmi oleh Kerajaan. Dalam bukunya “A Short History of Indonesia”  Colin Brown menjelaskan bahwa dasar dari kerajaan-kerajaan pertama Indonesia  (abad 1 hingga 15) terpengaruh oleh kebudayaan India yang kala itu menjadi salah satu kebudayaan besar dalam peradaban di benua asia (Brown, 2003).

Filosofi Lembuswana sangat menarik karena menurut penulis pribadi karakter Lembuswana mencerminkan kekuasaan besar dari seorang raja atau pemimpin harus diiringi dengan kebijaksanaan dan tanggung jawab yang tinggi, sebagai pelindung sudah seharusnya menjadi contoh untuk masyarakat dan siap berkorban untuk melindungi rakyatnya.

Sifat dasar dari karakter Lembuswana adalah kuat, adil, sakti, patuh, loyal dan jujur. Lembuswana sendiri memiliki rupa fisik yang sangat khas antara lain bentuk fisiknya yang merupakan gabungan dari berbagai macam hewan, antara lain gajah, burung, naga, singa dan lembu. Lembuswana sendiri memiliki julukan lain yang berasal dari bahasa sansekerta yaitu Paksi Liman Gangga Yaksa, dalam kamus bahasa Sansekerta karangan Dr.Purwadi M.Hum dan Eko Priyono SIP kata tersebut kemudian diterjemahkan, yakni Paksi yang berarti burung, Liman yang berarti gajah, Gangga merujuk pada dewi Gangga yaitu salah satu Dewi dalam agama Hindu yang menguasai elemen air, simbol dari pengampunan dosa dan keselamatan serta Yaksa yang diartikan sebagai raksasa sakti.

Pemaknaan dari setiap kata tersebut menyimbolkan akan kedigdayaan karakter Lembuswana dalam kebudayaan Kutai. Kuatnya pengaruh agama Hindu dalam karakter tersebut menjadi dasar yang kuat mengapa karakter Lembuswana sangat holistik dan relijius. Bambang Suwondo dalam bukunya “Sejarah Daerah Kalimantan Timur” menjelaskan bahwa pada era kejayaan Kutai Martapura, karakter Lembuswana adalah sebuah ikon tunggangan dewata atau yang bisa disebut juga sebagai makara, patung Lembuswana berwarna kuning keemasan adalah simbol akan kemewahan dan kemegahan dewa Hindu yang dianut oleh kerajaan Kutai pada masa itu (Bambang Suwondo, 1978).

Ciri fisiknya yang khas adalah representasi dari beberapa rupa Dewa Hindu, sesuai dengan namanya Paksi Liman Gangga Yaksa. Sayap merupakan salah satu elemen penting bagi Lembuswana sesuai dengan cirinya yang mewakili kata Paksi (burung), sayap ini adalah peminjaman ikon akan tokoh mitologi garuda dalam epos Ramayana, Garuda mewakili simbol kesetiaan dan kekuatan di udara. Gajah dan belalai mewakili kata Liman (Gajah) yang merupakan peminjaman akan karakteristik Dewa Ganesha sebagai simbol dari seni, ilmu pengetahuan, kecerdasan, kebijaksanaan, kekayaan dan perlindungan dari berbagai macam bencana. Gangga yang merupakan simbol dari dewi keselamatan dan pengampunan dan Yaksa yang berarti raksasa sakti.

Berdasarkan asal dari bentuk fisik Lembuswana yang mengambil berbagai bentuk dari dewa Hindu, sebenarnya Lembuswana sendiri meminjam istilah Makara sebagai inti dari karakteristik fisiknya. Makara adalah tunggangan atau wahana dari para Dewa atau Dewi dalam kepercayaan Hindu, Makara ditunggangi Oleh Dewa Baruna/Brahma dan Dewi Gangga. Makara sebenarnya adalah makhluk dalam mitologi Hindu yang umumnya digambarkan dalam bentuk hewan (biasanya berwujud gajah, singa, buaya, rusa) yang digabungkan dengan hewan air dibagian ekor seperti naga, ular atau ikan. Makara menyimbolkan kekuatan alam yakni darat dan laut atau bumi dan air.

Lembuswana yang sangat terpengaruh akan kebudayaan Hindu banyak meminjam unsur fisik dan filosofi yang terdapat pada Makara. Sehingga setiap aspek dalam rupa fisiknya tidak lepas dari berbagai unsur Dewa Hindu. Simbol sayap, sisik dan gajah pada Lembuswana merupakan filosofi bahwa Kerajaan Kutai dilindungi oleh kekuatan Dewa, kekuatan sempurna dimana setiap elemen penting kehidupan dikuasai oleh Lembuswana, bersisik naga menyimbolkan berkuasa di lautan, berbadan singa, bermahkota, berbelalai, bertaring, bertanduk  dan memiliki gading yang besar menyimbolkan bahwa Lembuswana berkuasa di darat, dan bersayap Garuda yang menyimbolkan bahwa Lembuswana berkuasa di udara.

Penggambaran karakter Lembuswana dapat dijumpai dalam berbagai media. Sumber acuan yang paling besar pengaruhnya dapat dilihat pada patung Lembuswana yang terdapat di Museum Mulwarman Tenggarong. Patung tersebut menjadi dasar utama bagi perkembangan visual karakter Lembuswana pada saat ini. Ciri khas yang paling menonjol dari Lembuswana adalah belalai, mahkota, sayap dan sisik dari karakter tersebut.

Karakteristik Lembuswana juga sangat identik dengan rupa karakter mitologi Paksi Naga Liman yang terdapat dalam kebudayaan Kanoman Cirebon. Filosofi Paksi Naga Liman dan Lembuswana juga terdapat kemiripan. Paksi atau burung melambangkan alam atas atau langit. Naga menjadi lambang kekuatan alam bawah atau air.

Sedangkan liman atau gajah melambangkan alam tengah atau bumi. Belalai gajah yang erat melibat trisula membawa pesan bahwa raja/sultan harus memiliki cipta, rasa dan karsa setajam bilah trisula. Gabungan dari ketiga hewan tersebut menjadi sebuah pesan yang diartikan bahwa penunggang hewan tersebut (Raja/Sultan) adalah tokoh besar yang mampu menjadi sentral dalam mengendalikan kekuatan unsur besar kehidupan dan melindungi bangsanya.

Menurut Purwadi (2008) Paksi Naga Liman adalah gambaran keeratan hubungan dengan Mesir sebagai daerah asal usul Syarif Hidayatullah sebagai sultan Cirebon yang dilambangkan dengan Paksi, Cina sebagai daerah yang pernah mengisi sejarah kehidupan Syarif Hidayatullah yang dilambangkan dengan Naga dan India sebagai daerah yang banyak memberikan budaya dan agama yang dilambangkan dengan Liman.

Ketiga Negara ini sangat erat hungannya dalam niaga dan pertukaran budaya. Syarif Hidayatullah sendiri memperlakukan rakyatnya dengan status yang sama antara pribumi dan pendatang, bahkan pendatang banyak mengambil andil dalam perkembangan budaya Cirebon.

Dalam kebudayaan Cirebon, Paksi Naga Liman pada mulanya dikembangkan sebagai hiasan bagi kereta kencana, kemudian berkembang kedalam seni batik dan lukisan kaca. karakter tersebut tidak pernah dibuat dalam bentuk monumen, karena kebudayaan cirebon kental dengan agama Islam, dikhawatirkan monumen tersebut menjadi salah satu bentuk penyimpangan terhadap yang Maha Kuasa.(http://www.vivaborneo.com/?p=45669)

 

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *