Budidaya Madu Lebah Kelulut di Calon Ibu Kota Negara

Indonesiainside.idBalikpapan – Sudah sejak lama masyarakat di sekitar hutan memanfaatkan hasil-hasil hutan dan hidup selaras dengan alam sekitarnya. Seperti yang dilakukan oleh dua dari 12 kelompok Hutan Kemasyarakatan (HKm) yang merupakan salah satu skema perhutanan sosial.

Kelompok Tani bunga Salak dan Bunga Pisang sukses membudidayakan madu Kelulut yang tidak menyengat dan berproduktifitas tinggi.

Dua kelompok HKm yaitu Kelompok Tani Bunga Pisang dan Bunga Salak telah memanfaatkan potensi desa mereka dengan membuat peternakan lebah Kelulut (Apis cerena). Lebah Kelulut adalah lebah kecil yang tidak menyengat dan dapat menghasilkan madu walaupun dalam jumlah yang sedikit ketimbang lebah madu dari jenis Apis dorsata yang hidup liar di hutan.

Pengembangan lebah Kelulut ini merupakan usaha sampingan petani yang sehari-hari disamping mereka menggarap perkebunan salak, karet dan berbagai sayur mayur ini.

Haji Syarif mengatakan jika pengembangan madu Kelulut memiliki potensi yang cukup bagus untuk dikembangkan sebagai usaha sampingan. Apalagi Kaltim akan menjadi ibu kota negara kelak.

“Dalam dua bulan kami dapat memanen 1.200 mililiter madu yang dapat dikemas dalam dua botol ukuran masing-masing 600 mililiter. Ini hanya berasal dari dua stup atau dua kotak pemeliharaan,” ujarnya pada Jumat (24/1).

Syarif berencana akan membuat masterplan untuk pengembangan madu Kelulut ini untuk 12 kelompok tani yang memiliki total lahan seluas 14.000 Ha yang berada didekat Hutan Lindung Sungai Wain (HLSW), Balikpapan. Nantinya, harap Syarif, di sekitar hutan dapat dijadikan wisata madu baik untuk pendidikan, penelitian maupun pariwisata. Apalagi lokasi budidaya madu ini berdekatan dengan lokasi calon ibu kota negara.

Madu Kelulut hasil dari budidaya oleh Kelompok Tani Bungan Pisang dan Bunga Salak, Potensi budidaya lebah Kelulut sangat terbuka apalagi Kaltim telah sebagai ibu kota negara.

Ia mengakui pendampingan yang dilakukan oleh pemerintah melalui Dinas Kehutanan, Balai Perhutanan Sosial dan Kemitraan Lingkungan (BPSKL), Yayasan Kawal Borneo Community Foundation (KBCF) dan Yayasan Bioma Kaltim, telah banyak membantu para petani.

Sumber pakan lebah Kelulut dirasakan Syarif sangat cukup karena umumnya petani memiliki lahan perkebunan salak dan buah-buahan lainnya yang menjadi sumber pakan utama lebah Kelulut.

Sementara itu Deputi Direktur Yayasan Bioma Kaltim Danang Suto Budi menjelaskan jika kegiatan pemanenan madu telah menggunakan mesin sedot. Sehingga madu yang dihasilkan dapat lebih bersih, tidak merusak sarang dan hasilnya lebih optimal.

“Kegiatan ini telah difasilitasi oleh Yayasan Kawal Borneo Community Foundation dan Yayasan Bioma Kaltim agar masyarakat dapat memanfaatkan hasil sampingan dari hutan untuk tambahan ekonomi para petani,” ujarnya.
Apalagi, tegas Danang, budidaya lebah Kelulut ini sangat mudah. Lebahnya lebih aman karena tidak menyengat serta madunya dapat dipanen dalam waktu relatif singkat yaitu antara satu hingga dua bulan.

Madu trigona (sebutan untuk madu Kelulut) telah dipercaya dalam pengobatan tradisional dan untuk menjaga stamina sejak ribuan tahun silam. Terlebih madu trigona juga bisa menghasilkan beepollen dan propolis sebagai hasil sampingan selain cairan manis madu.

“Perawatannya mudah dan tidak harus rutin tiap hari. Biasanya kotak atau sarang lebah ini hanya ditengok satu bulan sekali. Kalau saya bilang sih memelihara lebah cerena itu seperti memelihara tuyul, tiba-tiba ada uang (madu) di dalam kotak,” ujar Danang berkelakar.(Yuliawan Andrianto/ https://indonesiainside.id/ekonomi/2020/01/25/asyiknya-panen-madu-lebah-kelulut-di-calon-ibu-kota-negara

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *